Senin, 17 Desember 2012

Prospek Pendidikan Pesantren

PROSPEK PENDIDIKAN PESANTREN
DAN METODE PENGAJARAN SERTA WAWASAN KEAGAMAAN

I
PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang
Arus perkembangan modernisasi yang mengglobal saat ini memberikan sebuah keniscayaan pada perkembangan social, budaya dan pendidikan termasuk pada pendidikan Islam dan pesantren pada khususnya. Lembaga pendidikan yang bernafaskan Islam yang direpresentasikan oleh pesantren tidak bisa lagi menghindarkan diri dari transformasi social dan dentuman globalisasi dengan karakteristik modern yang menuntut keluarannya untuk lebih siap menerima perubahan sebagai masyarakat yang terbuka, the open society. Keharusan untuk  tetap survive ditengah dinamika pendidikan secara umum yang seringkali diwarnai benturan antar system nilai dan kultur yang berlainan, sekali lagi menantang pendidikan pesantren di Indonesia untuk memberikan sumbangsih riil bagi dunia pendidikan sebagaimana dalam perjalanan panjang sejarahnya yang dari waktu kewaktu yang terus mengalami penyesuaian mengikuti ritme perkembangan zaman.
Identifikasi sebagian kalangan yang menyatakan bahwa pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan anti-perubahan, ekslusif, konservatif, ataupun tidak demokratis dan lain sebagainya adalah tidak sepenuhnya benar. Realitas yang ada menunjukkan bahwa ditengah badai perubahan dengan segala pergulatan panjang sejarahnya, pendidikan pesantren tetap menunjukkan eksistensinya. Masih banyak masyarakat yang memilih pesantren sebagai mitra untuk mendidik anak-anaknya. Bahkan, dewasa ini banyak pesantren yang menawarkan program-program unggulan yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain. Eksistensi pesantren dan prospeknya dimasa dimasa mendatang menjadikan banyak peneliti baik local maupun mancanegara tertarik menjadikan pesantren sebagai objek studi untuk mengungkap rahasia yang terkandung dalam dalam system pendidikan pesantren.

B.        Rumusan Masalah
Akhir-akhir ini, ada dua fenomena menarik yang kontradiktif dari dunia pesantren. Fenomena pertama ialah bahwa pendidikan pesantren semakin mendapat tempat dan pengakuan dari public secara luas terhadap kualitas keluaran pesantren seiring dengan tampilnya tokoh-tokoh nasional berlatar belakang santri. Namun, fenomena lain yang menggejala ialah munculnya kecurigaan dunia luar terhadap dunia pesantren yang ditengarai melahirkan gerakan radikalisme. Pemakalah tidak akan menitikberatkan tulisan ini pada fenomena kedua, tetapi conten makalah ini akan berkisar pada:
1.       Bagaimana prospek pendidikan pesantren di masa mendatang?
2.       Bagaimana metode pengajaran dan wawasan keagamaan pada pesantren?

C.    Tujuan dan kegunaan
Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran singkat tentang prospek pendidikan pesantren dimasa mendatang sehingga para pengelola pesantren dapat memberikan pendidikan kepada santri untuk memaksimalkan potensi yang terdapat dalam diri mereka sehingga pada gilirannya dapat menjadi keluaran dan masyarakat yang siap untuk menghadapi transformasi perubahan hidup yang menuntut penguasaan mental dan life skill yang dapat menunjang kehidupan mereka ditengah kehidupan masyarakat yang kompleks.
II
PEMBAHASAN
A.       Prospek Pendidikan Pesantren Masa Mendatang

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia “prospek” adalah harapan untuk menjadi yang baik.[1] pengertian “pendidikan” sendiri adalah proses perubahan sikap seseorang atau kelompok. [2]  sedangkan pengertian pondok pesantren terbagi dua yaitu Pondok dan Pesantren. Arti pondok” sendiri ialah kata yang berasal dari bahasa arab “ Funduq” yang berarti hotel atau asrama atau sebuah tempat tinnggal yang sederhana yang terbuat dari bambu.[3] Sedangkan “pesantren” dalam pengertian dasarnya adalah “santri” dengan awalan pe dan akhiran an yang berarti tempat tinggal para santri.[4] Menurut Prof. Jhon seperti yang dikutip oleh Rahman Bashori, istilah santri  berasal dari bahasa tamil yang berarti guru mengaji. C.C Berg mengatakan istilah tersebut berasal dari kata Shastri dalam bahasa india berarti yang tahu buku-buku suci Agama Hindu.dan kata shastri bersal dari kata Shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama atau buku-buku tentang pengetahuan.[5] Berdasarkan uraian tersebut, dapat dikatakan bahwa pondok pesantren adalah sebuah lembaga yang memiliki sebuah acuan untuk menjadikan seseorang menuju ke arah yang lebih baik, dimana didalamnya para santri dibekali oleh seorang guru yang memberikan pengetahuan-pengetahuan mengenai bukan saja agama dan mengaji melainkan para tenaga pendidik didalamnya juga melakukan transformasi ilmu-ilmu agama dan pengetahuan positif yang dapat dijadikan pedoman hidup para santri agar bisa merubah mindset mereka dalam thalabul ilm untuk menjadikan mereka memiliki kepribadian akhsan takwim sebagai gambaran kehidupan mereka sesuai dengan arah yang diinginkan oleh lembaga pondok pesantren.
Pendidikan pesantren yang muncul sejak beberapa abad silam, sejak kemunculannya hingga kini tidak dapat di duakan dari kehidupan sosial dan cross kultural masayarakat. Pada awalnya pendidikan pesantren jauh dari apa diharapkan, namun, perlahan tapi pasti pesantren dapat berkembang mengikuti tuntutan zaman sesuai dengan perkembangannya pada abad 20 an. Namun, ditengah perubahan sistem pendidikan nasional, pesantren tetap teguh dengan konsep dasar “tafaqqahu fi-ddin”. Hal tersebut sebagaimana dijelaskanoleh Abudin Nata[6], bahwa tujuan dari pendidikan islam adalah untuk mencapai tujuan hidup muslim, yang menumbuhkan kesadaran manusia sebagai makhluk Allah swt.
Menurut  Nur Kholis Madjid, mengatakan pesantren disebut sebagai lembaga yang tidak hanya identik dengan makna keislaman tetapi juga cenderung mengandung makna keindonesian Indegenous, sebagai lembaga yang indegenous, pesantren muncul dan berkembang dari pengalaman sosiologis masyarakatnya.[7] Senada dengan hal tersebut menurut Nata[8], pesantren juga sebagai lembaga sosial keagamaan memiliki hubungan fungsional dengan masyarakat baik dalam bidang politik,ekonomi dan sosial budaya. Dengan demikian untuk  pengembangan pendidikan yang selalu di pikul oleh pesantren hingga kini masih mampu untuk bertahan melakukan identifikasi masalah-masalah dalam rana pendidikannya dan selalu menjaga eksistensinya dalam kemajuan pendidikannya dalam kehidupan sosial guna melakukan inovasi terhadap proses kemajuan pesantren ke arah yang lebih baik lagi dismping itu dibutuhkan juga oleh masyarakat dalam melakukan proses pengembangan diri dalam menjaga hablun min allah wa hablu mi an-nas.disamping itu pula pesantren dalam menjalankan pendidikan dapat dikatakan pula pendidikan seumur hidup ( Long life education).
Pada dasarnya prinsip-prinsip di atas tidaklah terlepas dari tujuan umum dan tujuan khusus dari ciri khas pesantren yang ingin mengarah kepada yang lebih baik  seperti yang dikatakan M. Arifin pendidikan dalam pesantren terbagi atas dua yaitu:
a)      Tujuan Khusus yang mempersiapkan para santrinya untuk menjadi orang alim dalam Ilmu agama yang diajarkan oleh kiai-nya serta mengamalkannya dalam masyarakat.
b)      Tujuan Umum yakni membimbing anak didik agar menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang sanggup dengan ilmu agamanya menjadi mubaligh Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya.[9]
Pesantren sebagai cikal bakal system pendidikan islam di Indonesia dengan corak dan karakter yang khas dianggap telah menjadi ikon masyarakat pribumi dalam memancangkan ideology pendidikan di Indonesia.[10] Pesantren dengan segala keunikannya mesih diharapkan menjadi penopang berkembangnya system pendidikan yang di Indonesia. Keaslian dan kekhasan pesantren disamping sebagai khazanah tradisi budaya bangsa juga merupakan kekuatan penyangga pilar pendidikan untuk memunculkan pemimpin bangsa yang bermoral. Tidak mengherankan kalau system pendidikan nasional saat ini menitikberatkan pada pembentukan karakter, hal ini dinilai bahwa salah satu penyebab semakin terpuruknya bangsa Indonesia adalah kurangnya kekuatan karakter yang dapat mengcounter niat-niat busuk dalam melakukan praktek-praktek kecurangan pada pengelolaan kebijakan pemerintahan. Pendidikan pesantren yang sarat dengan muatan nilai-nilai kebaikan seperti keikhlasan, kejujuran, persatuan, silaturrahim dan lain sebagainya dipandang sebagai salah satu jawaban dalam melawan perbuatan-perbuatan buruk tersebut.
Permasalahan seputar pengembangan pendidikan pesantren dalam hubungannnya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan isu actual dalam arus perbincangan kepesantrenan kontemporer yang disebabkan oleh realitas empiric keberadaan pesantren dewasa ini yang dinilai belum mampu mengoptimalisasi potensi yang dimilikinya.[11] Dalam bidang pendidikan, kalau saja pesantren dapat menawarkan model pendidikan kompetitif yang mampu melahirkan output yang memiliki kompetensi dalam penguasaan ilmu sekaligus skill sehingga dapat menjadi bekal terjun kedalam kehidupan social yang terus mengalami percepatan perubahan akibat modernisasi yang ditopang kecanggihan sains dan tekhnologi, maka pesantren dapat menjadi lembaga pendidikan unggul yang akan melahirkan sumber daya santri yang memiliki kecakapan dalam bidang ilmu-ilmu keislaman dan penguasaan tekhnologi secara sinergis yang dapat berimplikasi terhadap pemberdayaan potensi pesantren dalam kapasitasnya sebagai salah satu agents of social change dalam berpartisipasi mendukung proses transformasi social bangsa.
Prospek pendidikan pesantren yang sarat nilai-nilai luhur dan kebaikan menuntut adanya manajemen pengelolaan lembaga pendidikan yang sesuai dengan tuntutan zaman. Signifikansi profesionalitas manajemen pendidikan menjadi sebuah keniscayaan ditengah deras dan dahsyatnya arus indistrialisasi dan perkembangan tekhnologi modern. Dengan konsep pesantren yang mengintegrasikan nilai-nilai khas, luhur dan kebaikan yang telah dimilikinya dengan profesionalitas manajemen pendidikan yang up todate, memungkinkan ummat islam tidak lagi bermimpi dan sebatas angan-angan yang utopis untuk memiliki sebuah lembaga pendidikan yang bukan saja alternative tetapi menjadi pilihan utama bagi masyarakat islam untuk melahirkan tekhnokrat dan ilmuan dengan cakrawala keagamaan yang luas dan keluhuran budi pekerti dan mental yang qur’ani. Konsep ini dapat dikatakan sebagai sebagai konsep ideal sesuai dengan manhaj yang dianut oleh para salaf al-sholeh, yaitu:
المحــافظة على القــديم الصالح والأخذ على الجــديد الأصلح
Terjemah:
“Mempertahankan hal-hal lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik”

Pendidikan pesantren masa depan haruslah tetap melestarikan konsep-konsep pendidikan kekhasan tradisional yang dimilikinya yang masih relevan dengan kondisi kekinian dan mencirikan kondisi khas pesantren, seperti kajian kitab kuning dengan berbagai metode pengajarannya, namun dengan tidak menutup mata terhadap perubahan-perubahan yang merupakan sebuah keniscayaan yang dapat memberikan muatan-muatan positif yang tidak mencederai nilai-nilai luhur pesantren yang telah terjaga sekian lama.
Pesantren,kini tidak lagi berkutat pada kurikulum yang berbasis kegamaan (religion based curriculum) semata dan cendrung melangit, tetapi sudah mulai menerapkan kurikulum yang menyentuh persoalan kekinian masyarakat (society based curriculum).[12] Disamping itu munculnya diverifikasi literatur dipesantren semakin memperluas wawasan santri yang ada dipesantren. Ini menandai era baru pesantren yang mulai terbuka. Dengan demikian pesantren tidak lagi dapat dituding semata-mata sebagai lembaga keagamaan murni yang menutup mata terhadap realitas social, bahkan lebih dari itu ia telah memposisikan diri sebagai lembaga social yang hidup dan terus menerus merespons carut marut persoalan masyarakat disekililingnya. Pergeseran orientasi semacam ini tidak berarti memudarkan identitas khas pesantren dengan segala keunikannya melainkan justru semakin mempertegas bahwa pesantren sejak awal berdirinya adalah lembaga milik masyarakat yang berorientasi kepada masyarakat dan dikembangkan atas swadaya masyarakat.

B.        Metode Pengajaran dan Wawasana Keagamaan pada Pesantren

Metode pengajaran pada pesantren memiliki waktu pendidikan selama 24 jam termasuk dengan kegiatan ekstra kurikuler santri dan pengajarannya dalam sehari semalam yang ditempuh dengan berbagai cara-cara atau thariqah. Metode pengajaran ini diyakini merupakan hal yang sangat mendasar yang berdampak  pada pendidikan santri-santrinya.[13] Pada awalnya, pelaksanaan proses pengajaran yang dilakukan pesantren masih mengandung sifat tradisional, metode yang digunakan lazimnya adalah:
a.       Metode Wetonan.
Metode wetonan merupakan metode kuliah dimana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk disekeliling kiai yang menerangkan pelajaran santri menyimak dan menulis apabila ada hal yang pendting.
b.      Metode Sorongan.
Merupakan metode agak berbeda sedikit dari metode sebelumnya dimana santri menghadap guru satu persatu dengan membawa kitab sendiri dan kiai menerjemahkan kalimat tersebut.
c.       Metode hafalan (Memorizing)
Metode ini digunakan santri di dalam ataupun diuar pelajaran. Metode ini memiliki dampak baik kepada santri untuk menyimpan pelajaran dengan hafalan.

Metode pengajaran diatas merupakan cara yang diterapkan pada awal berdirinya sebuah pesantren dimana para santri masih terfokuskan pada pemberian materi pembelajaran dari seorang kiai. Namun berdasarkan perkembangan zaman dimana pesantren juga dapat merubah metode yang diajarkan kepada santri, pengajaran pesantren berubah, dimana tidak hanya kiai saja yang terlibat melainkan santri juga terlibat didalamnya. Dalam perkembangannya pondok pesantren tidak semata-mata tumbuh atas pola lama yang bersifat tradisional dengan ketiga pola pengajaran tersebut, melainkan juga melakukan suatu inovasi dalam pengembangan suatu system. Disamping pola tradisional yang termasuk cirri pondok salafiah, maka gerakan khalafiah telah memasuki derap perkembangan pondok pesantren yang menerapkan system klasikal, takhassus dan pelatihan.  
Klasikal merupakan pola penerapan pendirian kelompok belajar yang mengelolah pengajaran agama dan ilmu yang dikategorikan umum, sistem kursus merupakan metode pengajaran yang ditempuh melalui kursus keterampilan dan pelatihan dimana santri diberikan kegiatan untuk pengembangan psikomotorik  santri.[14] seperti yang dikatakan hasan Basri[15], ranah psikomotorik, sebagai upaya kecerdasan perilaku keterampilan. Dari uraian ini dapat dikatakan bahwa pesantren dalam mendidik para santrinya sudah mulai merintis sebuah metode yang tidak hanya mencerdaskan santri dengan metode menghafal, al-qur’an dan menerjemahkan melainkan juga telah mensinergikan pengembanan afeksi, kognisi,dan psikomotorik secara berkelanjutan.
Wawasan keilmuan yang didikkan pada para santri di pesantren sebagai lembaga  pendidikan Islam memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Mengarahkan manusia agar menjadi khalifah Tuhan dimuka bumi ini dengan sebaik-baiknya, dengan memakmurkan dan mengelolah bumi ini dengan sebaik-baiknya.
2.      Mengarahkan manusia agar seluruh tugasnya di muka bumi ini sebagai khalifah dilaksanakan dengan Ibadah.
3.      Mengarahkan manusia agar berakhlak mulia, sehingga tidak menyalah gunakan fungsinya.
4.      Membina dan mengarahkan potensi akal, jiwa dan jasmaniyahnya, sehingga ia memiliki ilmu, akhlak dan keterampilan.
5.      Mengarahkan manusia agar dapat mencapai kebahagian dunia dan akhirat.[16]


Model pendidikan islam yang diemban oleh pondok pesantren terus mengalami pembaruan-pembaruan dimana karakteristik pondok pesantren tetap melekat kuat dan menjadi jiwa dan pergerakan pondok pesantren dan berbarengan dengan itu pengadopsian model-model pendidikan modern harus dilakukan dengan tanpa mengurangi sedikitpun pengaktualisasian nilai-nilai keislaman yang hidup dalam pesantren. Lebih dari itu, transformasi penguasaan tekhnologi modern serta profesionalisasi para santri harus juga dikedepankan sebagai salah misi pondok pesantren. Hal yang amat penting adalah pondok pesantren juga harus menerapkan prinsip-prinsip bahwa pondok pesantren adalah sebuah komunitas social masyarakat islam modern harus terus diikuti.
Kedepan, dengan kelenturannya untuk memodernisasikan model pendidikan islam didalam pesantren, maka pesantren akan terus ikut berkembang menjadi “center of moslem revitalization” pusat revitaliasi islam. [17] Disini,lulusan pesantren akan mengabdikan diri sebagai pembaharu dan modernis islam dan membentuk serta mewarnai dunia modern dengan nafas islam yang dibawanya dari pesantren. Dan dengan itu akan lahir peradaban islam modern yang mampu berkembang dan membentuk tata dunia baru islam sebagai rahmatan li al-alamin, dan bukan menjadi sebuah kekuatan yang seringkali diisukan sebagai ancaman bagi dunia modern.


III
PENUTUP
A.       Kesimpulan

Keaslian dan kekhasan pesantren disamping sebagai khazanah tradisi budaya bangsa juga merupakan kekuatan penyangga pilar pendidikan untuk memunculkan pemimpin bangsa yang bermoral. Pesantren dapat menjadi lembaga pendidikan unggul yang akan melahirkan sumber daya santri yang memiliki kecakapan dalam bidang keislaman dan penguasaan tekhnologi secara sinergis yang dapat berimplikasi terhadap pemberdayaan potensi pesantren dalam kapasitasnya sebagai salah satu agents of social change. Namun, prospek pendidikan pesantren tersebut harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai khas, luhur dan kebaikan yang telah dimilikinya dengan profesionalitas manajemen pendidikan yang up todate  yang tetap melestarikan konsep-konsep pendidikan kekhasan tradisional yang dimilikinya dengan kondisi kekinian dan mencirikan kondisi khas pesantren.
Metode pengajaran pada pesantren pada awal berdirinya masih terfokus pada pemberian materi pembelajaran dari seorang kiai. Dalam perkembangannya pondok pesantren tidak semata-mata tumbuh atas pola lama yang bersifat tradisional, namun telah menerapkan system klasikal, takhassus dan pelatihan yang mensinergikan pengembanan afeksi, kognisi,dan psikomotorik secara berkelanjutan. Model pendidikan pesantren terus mengalami pembaruan dimana karakteristik pesantren tetap melekat kuat dan menjadi jiwa dan pergerakan pondok pesantren dan berbarengan dengan itu mengadopsi model-model pendidikan modern tanpa mengurangi sedikitpun pengaktualisasian nilai-nilai keislaman yang hidup dalam pesantren. dan dengan kelenturannya untuk memodernisasikan model pendidikan islam didalam pesantren, maka pesantren terus ikut berkembang menjadi pusat revitaliasi islam yang mencetak keluaran pesantren sebagai pembaharu dan modernis islam yang mewarnai dunia modern dengan nafas islam yang dibawanya dari pesantren yang mampu berkembang dan membentuk tata dunia baru islam sebagai rahmatan li al-alamin, dan bukan menjadi sebuah kekuatan yang seringkali diisukan sebagai ancaman bagi dunia modern.







DAFTAR PUSTAKA

Fathurrohman, Pupuh dan M. Sobry Sutikno. Strategi Belajar Mengajar: Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami. Bandung: PT Refika Aditama, 2010.
Departemen Pendidikan dan kebudayaan Nasional. Kamus Besar Bahsa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2003.
Amin Haedari dan Ishom El-Saha. Peningkatan Mutu Terpadu Pesantren dan Madrasah Diniyyah. Jakarta: Diva pustaka, 2004.
Ruchman Bashori. The Founding Father Of  Pesantren Modern Indonesia. Jakarta: Inceis Ineis, 2008.
Abuddin Nata. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Bandung: Angkasa Group, 2003.
Syafaruddin. Menejemen Lembaga Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press, 2005.    
Azyumardi Azra. Pendidikan islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 2002.
Abudin Nata dan Azyumardi Azra. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam Di Indonesia. Jakarta: PT. Grasindo, 2001.
M. Arifin. Kapita Selekta Pendidikan Islam Dan Umum. Jakarta: Bumi Aksara, 1991.
M. Shulthon Msyhud dan Moh. Khusnurdilo. Manajemen Pondok Pesantren. Jakarta: Diva Pustaka, 2003.
M. Bachri Ghazali. Pesantren Berwawasan Lingkungan. Jakarta: CV. Prasasti, 2004.
Hasan Basri, Filasafat Pendidikan Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia, 2009.
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi Modernisasi Ditengah Tantangan Milenium III. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012.
Tim Redaksi Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, 2008.
Dawam, Aiunurrafiq dan Ahmad Ta’arifin. Manajemen Madrasah Berbasis Pesantren. Jakarta: Listafariska Putra, 2004.


[1] Departemen Pendidikan dan kebudayaan nasional, Kamus Besar Bahsa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), 899.
[2] Ibid___
[3] Amin Haedari dan Ishom El-Saha, Peningkatan Mutu Terpadu Pesantren dan Madrasah Diniyyah, ( Jakarta: Diva pustaka, 2004), 1.
[4] Ruchman Bashori, The Founding Father Of  Pesantren Modern Indonesia, ( Jakarta: Inceis Ineis, 2008), 33.
[5] Ibid_____
[6] Abuddin Nata, Kapita Selekta Pendidikan Islam, ( Bandung: Angkasa Group, 2003), 211.
[7] Azyumardi Azra, Pendidikan islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 2002), 108.
[8] Abudin Nata dan Azyumardi Azra, Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Di Indonesia, (Jakarta: PT. Grasindo, 2001), 166.
[9] M.Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam Dan Umum. (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), 248.
[10] Aiunurrafiq Dawam dan Ahmad Ta’arifin, Manajemen Madrasah Berbasis Pesantren (Jakarta: Listafariska Putra, 2004), 2.

[11] M. Shulthon Msyhud dan Moh. Khusnurdilo, Manajemen Pondok Pesantren. (Jakarta: Diva Pustaka, 2003), 89.
[12]  Haedari, Amin dan Ishom El-Saha, Peningkatan Mutu Terpadu Pesantren dan Madrasah Diniyyah (Jakarta: Diva pustaka, 2004), 5.

[13] M. Shulthon Msyhud dan Moh. Khusnurdilo, Manajemen Pondok Pesantren. (Jakarta: Diva Pustaka, 2003), 89.
[14] M. Bachri Ghazali, Pesantren Berwawasan Lingkungan. ( Jakarta: CV. Prasasti, 2004),  23.
[15] Hasan Basri, Filasafat Pendidikan Islam. (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2009), 127.
[16] Nata,  Kapita Selekta Pendidikan Islam, 212.
[17] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi Modernisasi Ditengah Tantangan Milenium III. (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), 146.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar